Wednesday, January 18, 2017

Makna Cinta


Bicara soal cinta seperti bicara tentang air. Mengalir tanpa perintah dan paksaan. Menuju ketempat manapun yang dia inginkan. Kepasrahan dan penerimaan tanpa bisa menolak keindahannya.
Cinta. Satu kata yang sangat indah, memiliki makna yang suci, dan konsekuensi yang sangat besar. Cinta itulah kata yang biasa diucapkan, namun di balik itu ia mnegandung ribuan makna yang sering kali tidak sanggup diungkapkan. Cinta, sebagaimana digambarkan oleh orang-orang mabuk karenanya, ia merupakan simbol keikhlasan, kesucian dan kemurnian. Cinta adalah awal dimulainya perjanjian. Cinta adalah air kehidupan, bahkan cinta adalah rahasia kehidupan. Cinta adalah ketentraman ruh, bahkan ia merupakan ruh kehidupan. Dengan cinta, kehidupan ini menjadi indah, dan dengan cinta ruh menjadi mulia, hati menjadi bersih. Dengan cinta kesalahan akan termaafkan, dan dengan cinta kebaikan senantiasa terucapkan.
Andaikan bukan karena cinta takkan mampu seorang ibu menanggung sakitnya melahirkan. Tanpa cinta keindahan musim semi takkan tercipta. Tanpa cinta takkan ada perdamaian dalam setiap jengkal tanah kehidupan.
Hanya saja sebagian orang yang mengenakan baju cinta justru keluar dari makna yang terkandung didalamnya, sehingga di memberikan makna yang tidak semestinya tentang cinta. Ia mengatakan bahwa cinta adalah kenikmatan sesaat yang menyesatkan. Mengatasnamakan cinta untuk melakukan pelanggaran atas perintah Allah.
Segala macam penyimpangan yang dianggap sebagai suatu yang biasa sudah sering kita lihat di sekitar kita. Banyak dari kita yang mengatakan cinta kepada orang yang bukan haknya untuk mendengarkannya. Menjadikannya alasan untuk bebas beraktivitas yang berdosa. Makna cinta tak lagi suci tatkala terkotori oleh buasnya nafsu. Makna cinta sudah berubah karena terbungkus rapi oleh nafsu dunia yang tidak pada tempatnya. Cinta semacam inilah yang menimbulkan kehancuran.
Padahal cinta akan senantiasa menjadi awan yang menaungi dua hati yang sedang jatuh cinta di bawahnya. Keduanya saling mengenal karena Allah, membangunnya di atas syariat Allah dan senantiasa melaksanakan hak-hak Allah.

Sunday, May 29, 2016

Balada Rumah Kaca



Balada Rumah Kaca
Terpantul bayangan diri pada cermin yang mati. Kulihat ke kanan, kiri, depan belakang semuanya sama. Bayanganku!. Taka ada yang lain. Hanya aku. Kulihat mataku  yang sipit dengan lingkaran hitam tanda lelah yang tak berujung. Apa lagi itu, warna kulitku yang semakin pucat. Tubuhku semakin kurus tak terurus.  Bajuku begitu  indah, putih bersih bagaikan gaun sang putri,Tapi…..
Inikah aku?
Bukan…..
Bukan….
Itu tidak mungkin.
Aku tidak mengenal wajah asing ini. Kenapa hanya wajah ini yang kulihat di semua sudut ?. Dimana yang lain?
Aku berlari membuka semua pintu yang ada di depanku. Pintu kaca, semua kaca. Aku sudah tak sanggup melihat wajah itu. Wajahku yang bukan wajahku.

Wednesday, April 6, 2016

Coleus sp

Mengenal Disleksia Lebih Dekat



                                  

Hasil resume seminar disleksia  “ Dyslexia Today Genius Tomorrow” Sabtu, 13 Februari 2016
Pemateri : Erlyza Prasty ST.MM



a.       Definisi Disleksia
Disleksia merupakan kelainan dengan dasar neurologis, bersifat genetik yang berhubungan dengan kemampuan penguasaan dan pemprosesan bahasa.  Orang tua yang  menyandang disleksia, 50 % dari keturuannya menderita disleksia. Disleksia dapat bermanifestasi sebagai kesulitan berkomunikasi/ bahasa ekspresif-reseptif, membaca, menulis, mengeja, dan kesulitan dalam matematika. Disleksia tidak disebabkan karena kurangnya motivasi ataupun adanya gangguan pada area sensoris. Disleksia disandang seumur hidup. Disleksia dimiliki oleh anak dengan IQ diatas 90. Pada umumnya penderita disleksia lebih banyak dari laki-laki.

b.      Tanda-Tanda Awal pada Anak Disleksia
Diagnosis disleksia dapat dilakukan pada usia 7 tahun, namun deteksi dini sudah dapat dilakukan sejak awal tahun kehidupannya. Deteksi dini dilakukan merujuk pada milestone perkembangan anak terutama dari aspek bahasa. Jika perkembangan anak tidak sesuai dengan milestone perkembangannya, maka kita perlu mewaspadai akan kemungkinan disleksia.

c.       Kelompok Resiko Disleksia
1.      Riwayat disleksia dalam keluarga
2.      Riwayat gangguan berbahasa dalam keluarga
3.      Gangguan berbahasa lisan
-          Kosa kata terbatas
-          Bicara tidak runtut
-          Artikulasi tidak jelas
-          Pemilihan kosa kata yang tidak tepat
-          Banyak menggunakan kata ganti

d.      Macam Gangguan pada Disleksia
1.      Gangguan lisan : kosa kata terbatas, disartikulasi, salah terminology, sering menggunakan kata ganti, persepsi terbalik, bercerita tidak runtut, sulit mengikuti instruksi majemuk, mudah lupa, sulit ikut ritme.
2.      Gangguan tulisan: sulit membedakan bunyi fonem, bentuk dan nama huruf serta angka. Menulis tidak sesuai kaidah ( terbalik, tertukar, ukuran terlalu besar/kecil, berantakan).Huruf atau kata hilang. Sulit susun kata jadi kalimat, sulit gunakan kata sambung
3.      Gangguan sosial: sulit memahami postur dan bahasa tubuh lawan bicara, sulit memahami kata-kata sifat yang abstrak, sulit memahami pragmatik, Nampak tidak sopan karena tidak ’mengikuti’ norma sosial, sangat baku dan kaku terhadapa aturan yang dipahaminya.

e.       Aspek-Aspek Kesulitan pada Disleksia
1.      Aspek kesulitan area berbahasa
1)      Berbicara    : Bicara pelan-pelan, berpikir lama. Salah memilih kata-kata dan salah pengucapannya. Sulit menemukan padanan kata yang benar.
2)      Membaca    : sulit membedakan kelompok huruf dan kelompok angka/ bilangan. Sulit mengenali bunyi dari suatu huruf. Sulit mengidentifikasi bunyi dari gabungan huruf. Tidak mau dan sulit membaca dengan suara keras, apalagi di depan kelas. Kehilangan kata/kalimat saat membaca. Membaca tanpa pemahaman. Kesulitan memaknai sebuah kata dan menggunakannya dalam kalimat.
3)      Mengeja      : sulit menghapal bentuk huruf. Kesulitan mengetahui bunyi tiap huruf dan membedakan setiap huruf dengan bunyinya. Bingung membedakan huruf besar dan huruf kecil.
4)      Menulis       : kesulitan mengontrol pensil/pulpen. Sangat lambat dalam menyelesaikan tugas menulis, kesulitan mengeja, menyulitkan saat menuliskannya. Tidak mampu mengorganisasi ide untuk ditulis. Kesulitan menuuliskan kata-kata yang “sulit” saat membaca. Kesulitan menyusun kalimat dengan tepat.
5)       Mendengar            : sulit memahami insrtuksi majemuk. Kerap bertanya untuk  mengkonfirmasi pemahamannya. Kehilangan fokus saat mendengarkan pembicaraan yang panjang. Suasana bising tidak bisa membuat fokus. Sulit mengikuti ritme.
6)      Mengingat  : mudah lupa. Susah membedakan mana hal yang nyata dan khayalan. Lupa kombinasi huruf dari sebuah kata. Susah mengingat wajah dan nama orang. Susah menghapalkan urutan pada area matematika dan IPA. Sulit mengingat instruksi majemuk. Sulit memahami konsep waktu sederhana
7)      Kecerdasan : memiliki kecerdasan yang baik bahkan sangat baik. Beberapa dengan kecerdasa sangat tinggi dan berbakat di bidang tertentu. Beberapa memiliki minat terbatas
8)      Proses visual           :  beberapa melihat huruf menghilang, bergerak, berbayang di kertas. Kesulitan membaca tulisan berwarna hitam dengan kertas putih. Mengalami ketegangan mata dan sakit kepala. Lambat menyalin catatan dan menuliskannya dengan benar.
9)      Perencanaan            : sulit melakkan aktivitas dengan tntutan yang runtut. Sulit mengikuti ritme. Sulit memahami konsep waktu sederhana. Sering kehilangan waktu. Berantakan atau terlalu rapi. Sulit mengatur prioritas.
10)  Kecepatan   : lebih lama saat menyelesaikan tugas membaca dan menulis. Lebih lama dalam hal memahami sistem dan cara kerja. Membutuhkan waktu kerja lebih lama saat ulangan /tes/ujian.
11)  Orientasi     : mudah teresat. Kesulitan menghafal arah dan orientasinya. Tidak bisa membaca jam analog. Sulit memahami konsep waktu sederhana.
12)  Perilaku       : menolak sekolah/ tidak mau mengerjakan PR/ tugas. Memiliki kepercayaan diri dan konsep diri yang lemah hingga menimbulkan gangguan sosial emosi seperti : berbohong, agresif, mudah menyerah, gatget addict, medsos addict.

f.       Cara Mengetahui Anak Disleksia
1.      Langkah pertama        : melakukan pemeriksaan medis oleh dokter anak atau dokter khusus disleksia
2.      Langkah kedua           : menghubungi spesialis seperti neuropediatric dan psikolog
3.      Langkah ketiga           : melakukan komunikasi dengan semua pihak terkait yaitu: orang tua, spesialis dan guru.

g.      Cara Mendampingi Anak Disleksia di Rumah
1.      Membaca bersama-sama setiap hari
2.      Cari cara belajar yang menyenangkan dan membangunkan minatnya
3.      Gunakan audio books atau talking books
4.      Gunakan aplikasi atau software yang tepat
5.      Amati dan catat perkembangannya
6.      Hargai semua pencapaiannya sekecil apapun
7.      Fokus pada usahanya bukan sekedar hasilnya
8.      Berempati pada kemampuannya, dan sabar.
9.      Ciptakan rumah yang reader- friendly
10.  Bangun kepercayaan dirinya
11.  Cari  bakatnya, kelebihan non akademisnya, kembangkan.
h.      Cara mengakomodasi Pendidikan Anak Disleksia di Sekolah
1.      Bahan ajar       : gunakan buku dengan tulisan besar sesai dengan kemampuan membacanya. Gunakan audio/talking books. Perbanyak gambar sebagai petunjuk. Tulisan pada lembar kerja dibuat besar. Memberikan instruksi yang sederhana. Memberikan fasilitas buku tulis yang berbeda.
2.      Teknik mengajar          : memberikan instruksi satu persatu baik lisan maupun tulisan. Mengulangi setiap kali memberi petunjuk dan pastikan murid mengerti. Disiplin dengan rutinitas kelas. Kelas dengan  murid sedikit lebih baik, berikan berkas rangkuman untuk dipelajari sirmah. Mencatat pencapaiannya setiap hari. Memberikan waktu khusus untuk memperkenalkan materi baru/cara baru. Guru selalu belajar dan mengupdate pengetahuannya.
3.      Managemen kelas dan ujian    : beri waktu lebih lama untuk  membaca, menulis dan menyelesaikan tugasnya. Memberikan kesempatan dengan cara dia mengerti. Mengekomodasi kebutuhan kerjanya. Berikan hand out khusus yang lebih sederhana. Berikan kata ‘pertama’ saat tugas menulis panjang untuk membantu initial taskingnya. Memberikan contoh hasil kerja yang baik sebagai panduan kerja. Mengatur uruutan soal dari yang mudah ke yang sulit. Mengizinkan murid untuk melaporkan dengan cara berbeda, misalnya dengan poster atau video. Memberikan waktu lebih lama saat ujian atau rangan terpisah. Membacakan soal dan mengingatkan untuk memerikasa kembali hasil kerjanya.
  
A.    HASIL TANYA JAWAB DAN DISKUSI OLEH PEMBICARA
1.      Penyandang disleksia memiliki IQ minimal 90. Jika kurang dari itu berarti perlu diagnosis pasti dari ahli karena bisa jadi termasuk dalam kategori kesulitan belajar. Hal ini perlu untuk menyesuaikan akomodasi dan pendekatan yang diperlukan. Sehingga perlu adanya kerjasama antara guru dan orang tua siswa.
2.      Perlunya pendekatan khusus dari orang tua dan guru untuk menangani anak disleksia.
3.      Disleksia disandang seumur hidup sehingga perlu pendampingan terus meskipun sudah mencapai usia dewasa.
4.      Salah satu software dalam bentuk game anak-anak yang dirancang khusus untuk anak disleksia adalah lexipal. Produk ini merupakan buatan asli Indonesia dan diakui secara internasional. Program ini memiliki kualitas dan mampu membantu anak-anak disleksia untuk belajar melalui game.

5.      Disleksia dapat diketahui dari usia 7 tahun. Tetapi bila ada seseorang yang memiliki ciri-ciri disleksia pada usia remaja maka perlu adanya pemeriksaan medis. Agar hasilnya valid dan dapat segera diberikan penanganan khusus.