Cinta, sungguh sudah banyak hal kulalui hanya atas nama
cinta. Baik buruk tak kuhiraukan asalkan kumampu mempertahankan cinta itu. Tapi
kau tak pernah membiarkanku berlepas walau hanya sejenak, kau terus meminta dan
meminta apa yang kumiliki. Waktu, harta, emosiku, atau mungkinkah kau juga
menginginkan nyawaku?
Cinta, kau tahu sejak pertama kali ku mengenal cinta yang
kurasa adalah bahagia. Ku bahagia mengenalmu, bertemu denganmu, meraskanmu,
menyimpanmu dalam hati dan memeliharanya.
Cinta.. kau tumbuh sumbur dalam hati, bertambah kuat ketika orang yang membawamu hadir disisiku.
Hanya dengan melihat siluetnya sudah berhasil membuat tubuhku bergetar,
jantungku berdetak tak karuan, malu setengah mati, dan ingin waktu terhenti
saat itu. Saat dimana dia yang membuatku mengenalmu berjalan kearahku, menuju
tempat dimana aku berdiri menantinya. Entah tak kubanyangan betapa merahnya
mukaku, betapa tertundukknya aku melihatnya.
Cinta … sungguh kau mengubah hidupku, mengubah segala hidup yang terasa hitam dan putih menjadi
penuh warna. Setiap hari seakan ku meihat ribuan pelangi menghiasi langit,
tersenyum sendiri, tertawa, bahagia hanya dengan mengingat kenangan akan
dirinya.
Cinta.. kau telah mengubah hampir seluruh hidupku. Membawaku
menjadi orang berbeda. Menjadikan aku lebih ceria dari biasanya, lebih semangat
dari biasanya.
Waktu telah berlalu, pohon cinta yang kutaman sudah semkin
besar dihati, mengakar kuat, dan tak mudah kulepaskan. Dirinya telah memberikan
pupuk terbaik untuk menjadikanmu tumbuh subur dihatiku. Tapi keindahan itu kini
mulai menghilang ketika kau mulai berjalan pergi menjauh. Kau mengatakan sudah
tak ada lagi yang tersisa disini dan kau inginkan kebahagiaan di tempat lain.
Betapa hancur cintaku, pohon cintaku mulai layu menguning. Daunnya mulai
berguguran satu persatu. Gersang, tandus, dan begitu suram hidup yang kini
kujalani. Indahnya pelangi yang dulu setiap hari kunikmati kini hanya tersisa
warna kelabu.
Ketika cinta kepada makhluk kuagunggkan sungguh terasa
menyakitkan. Cinta ini membuatku terjatuh dari tingginya angan dan harapa,
terhempas keras ke tanah dan pecah berkeping-keping. Sulit kuraih kepingan hati
yang berserakan dan menyatukannya lagi. Ingin kudapat cinta yang haqiqi, cinta
yang takkan pernah menyakiti, cinta yang takkan pernah ada rasa sakit. Cinta
suci yang begitu tulus dan takkan pudar selamanya.
Cinta ini sekarang mulai kubangun, cinta ini kini mulai
menyesakki hatiku. Cinta yang semakin hari semakin terasa indah. Cinta
yangtakkan pernah membuatku sakit, cinta yang takkan mengharap pamrih apapun,
cinta yang teramat agung. Yah cinta itu adalah cinta kepada Ilahi. Kutemukan
cinta yang sebenanrnya, cinta ini akan menjadikanku kuat dalam menghadapi
segala macam cobaan dalam hidup. Cinta ini akan menjadikanku menjadi orang paling
bahagia karena Allah takkan pernah meninggalkanku ketika kutetap mengharapnya.
Cinta ini tak membuatku susah , cinta ini akan tetap menjaga hijaunya pohon
cinta dalam hatiku tetap subur dan berbuah. Cinta ini adalah cinta yang haqiqi.
Karena cinta kepada Illah adalah cinta tertinggi yang
memiliki tingkatan tertinggi dalam rasa. Dengannya kumampu berjuang dijalanNya,
menegekkan risalahnya, menolong agamaNya. Meski terasa panjang tapi tetap
kebahagiaan yang kurasakan. Setiap tetes peluh akan Allah ganti dengan
surgaNya. Adakah cinta lain yang seindah cinta kepada Allah?
Sungguh beruntunglah orang-orang yang mampu menemukan dan
merakannya. Karena hidup di dunia hanyalah sementara dan cinta kepada Allah
akan menyelamatkan dari rasa terlena akan indahnya dosa di Dunia.
Rasulullah SAW
bersabda, ”tiga golongan yan akan merasakan manisnya iman yaitu: golongan yang
mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari apapun, golongan yang tidak mencintai
orang lain melainkan hanya karena Allah, dan golongan yang tidak kembali kepada
kekufuran sebagaimana ia tidak ingin dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim, At-Tirmidzi,
serta An-Nasa’i, dari Anas)