Blog ini berisi motivasi, kisah inspiratif, cerita fiktif dan sharing hasil karya bermafaat :)
Wednesday, April 6, 2016
Mengenal Disleksia Lebih Dekat
Hasil resume seminar disleksia “ Dyslexia Today
Genius Tomorrow” Sabtu, 13 Februari 2016
Pemateri : Erlyza Prasty ST.MM
a. Definisi
Disleksia
Disleksia merupakan
kelainan dengan dasar neurologis, bersifat genetik yang berhubungan dengan
kemampuan penguasaan dan pemprosesan bahasa. Orang tua yang
menyandang disleksia, 50 % dari keturuannya menderita disleksia. Disleksia
dapat bermanifestasi sebagai kesulitan berkomunikasi/ bahasa ekspresif-reseptif,
membaca, menulis, mengeja, dan kesulitan dalam matematika. Disleksia tidak
disebabkan karena kurangnya motivasi ataupun adanya gangguan pada area
sensoris. Disleksia disandang seumur hidup. Disleksia dimiliki oleh anak dengan
IQ diatas 90. Pada umumnya penderita disleksia lebih banyak dari laki-laki.
b. Tanda-Tanda
Awal pada Anak Disleksia
Diagnosis disleksia
dapat dilakukan pada usia 7 tahun, namun deteksi dini sudah dapat dilakukan
sejak awal tahun kehidupannya. Deteksi dini dilakukan merujuk pada milestone
perkembangan anak terutama dari aspek bahasa. Jika perkembangan anak tidak
sesuai dengan milestone perkembangannya, maka kita perlu mewaspadai akan
kemungkinan disleksia.
c. Kelompok
Resiko Disleksia
1. Riwayat
disleksia dalam keluarga
2. Riwayat
gangguan berbahasa dalam keluarga
3. Gangguan
berbahasa lisan
-
Kosa kata terbatas
-
Bicara tidak runtut
-
Artikulasi tidak jelas
-
Pemilihan kosa kata yang tidak tepat
-
Banyak menggunakan kata ganti
d. Macam
Gangguan pada Disleksia
1. Gangguan
lisan : kosa kata terbatas, disartikulasi, salah terminology, sering
menggunakan kata ganti, persepsi terbalik, bercerita tidak runtut, sulit mengikuti
instruksi majemuk, mudah lupa, sulit ikut ritme.
2. Gangguan
tulisan: sulit membedakan bunyi fonem, bentuk dan nama huruf serta angka.
Menulis tidak sesuai kaidah ( terbalik, tertukar, ukuran terlalu besar/kecil,
berantakan).Huruf atau kata hilang. Sulit susun kata jadi kalimat, sulit
gunakan kata sambung
3. Gangguan
sosial: sulit memahami postur dan bahasa tubuh lawan bicara, sulit memahami kata-kata
sifat yang abstrak, sulit memahami pragmatik, Nampak tidak sopan karena tidak ’mengikuti’
norma sosial, sangat baku dan kaku terhadapa aturan yang dipahaminya.
e. Aspek-Aspek
Kesulitan pada Disleksia
1. Aspek
kesulitan area berbahasa
1) Berbicara : Bicara pelan-pelan, berpikir lama. Salah
memilih kata-kata dan salah pengucapannya. Sulit menemukan padanan kata yang benar.
2) Membaca
: sulit membedakan kelompok huruf dan
kelompok angka/ bilangan. Sulit mengenali bunyi dari suatu huruf. Sulit
mengidentifikasi bunyi dari gabungan huruf. Tidak mau dan sulit membaca dengan
suara keras, apalagi di depan kelas. Kehilangan kata/kalimat saat membaca.
Membaca tanpa pemahaman. Kesulitan memaknai sebuah kata dan menggunakannya
dalam kalimat.
3) Mengeja : sulit menghapal bentuk huruf. Kesulitan
mengetahui bunyi tiap huruf dan membedakan setiap huruf dengan bunyinya. Bingung
membedakan huruf besar dan huruf kecil.
4) Menulis : kesulitan mengontrol pensil/pulpen.
Sangat lambat dalam menyelesaikan tugas menulis, kesulitan mengeja, menyulitkan
saat menuliskannya. Tidak mampu mengorganisasi ide untuk ditulis. Kesulitan
menuuliskan kata-kata yang “sulit” saat membaca. Kesulitan menyusun kalimat
dengan tepat.
5) Mendengar :
sulit memahami insrtuksi majemuk. Kerap bertanya untuk mengkonfirmasi pemahamannya. Kehilangan fokus
saat mendengarkan pembicaraan yang panjang. Suasana bising tidak bisa membuat fokus.
Sulit mengikuti ritme.
6) Mengingat : mudah lupa. Susah membedakan mana hal yang
nyata dan khayalan. Lupa kombinasi huruf dari sebuah kata. Susah mengingat
wajah dan nama orang. Susah menghapalkan urutan pada area matematika dan IPA.
Sulit mengingat instruksi majemuk. Sulit memahami konsep waktu sederhana
7) Kecerdasan : memiliki kecerdasan yang baik bahkan sangat
baik. Beberapa dengan kecerdasa sangat tinggi dan berbakat di bidang tertentu.
Beberapa memiliki minat terbatas
8) Proses
visual : beberapa melihat huruf menghilang, bergerak,
berbayang di kertas. Kesulitan membaca tulisan berwarna hitam dengan kertas
putih. Mengalami ketegangan mata dan sakit kepala. Lambat menyalin catatan dan
menuliskannya dengan benar.
9) Perencanaan : sulit melakkan aktivitas dengan
tntutan yang runtut. Sulit mengikuti ritme. Sulit memahami konsep waktu
sederhana. Sering kehilangan waktu. Berantakan atau terlalu rapi. Sulit mengatur
prioritas.
10) Kecepatan : lebih lama saat menyelesaikan tugas membaca
dan menulis. Lebih lama dalam hal memahami sistem dan cara kerja. Membutuhkan
waktu kerja lebih lama saat ulangan /tes/ujian.
11) Orientasi : mudah teresat. Kesulitan menghafal arah
dan orientasinya. Tidak bisa membaca jam analog. Sulit memahami konsep waktu
sederhana.
12) Perilaku : menolak sekolah/ tidak mau mengerjakan
PR/ tugas. Memiliki kepercayaan diri dan konsep diri yang lemah hingga
menimbulkan gangguan sosial emosi seperti : berbohong, agresif, mudah menyerah,
gatget addict, medsos addict.
f. Cara
Mengetahui Anak Disleksia
1. Langkah
pertama : melakukan pemeriksaan
medis oleh dokter anak atau dokter khusus disleksia
2. Langkah
kedua : menghubungi spesialis
seperti neuropediatric dan psikolog
3. Langkah
ketiga : melakukan komunikasi
dengan semua pihak terkait yaitu: orang tua, spesialis dan guru.
g. Cara
Mendampingi Anak Disleksia di Rumah
1. Membaca
bersama-sama setiap hari
2. Cari
cara belajar yang menyenangkan dan membangunkan minatnya
3. Gunakan
audio books atau talking books
4. Gunakan
aplikasi atau software yang tepat
5. Amati
dan catat perkembangannya
6. Hargai
semua pencapaiannya sekecil apapun
7. Fokus
pada usahanya bukan sekedar hasilnya
8. Berempati
pada kemampuannya, dan sabar.
9. Ciptakan
rumah yang reader- friendly
10. Bangun
kepercayaan dirinya
11. Cari bakatnya, kelebihan non akademisnya,
kembangkan.
h. Cara
mengakomodasi Pendidikan Anak Disleksia di Sekolah
1. Bahan
ajar : gunakan buku dengan tulisan
besar sesai dengan kemampuan membacanya. Gunakan audio/talking books. Perbanyak
gambar sebagai petunjuk. Tulisan pada lembar kerja dibuat besar. Memberikan
instruksi yang sederhana. Memberikan fasilitas buku tulis yang berbeda.
2. Teknik
mengajar : memberikan instruksi
satu persatu baik lisan maupun tulisan. Mengulangi setiap kali memberi petunjuk
dan pastikan murid mengerti. Disiplin dengan rutinitas kelas. Kelas dengan murid sedikit lebih baik, berikan berkas
rangkuman untuk dipelajari sirmah. Mencatat pencapaiannya setiap hari.
Memberikan waktu khusus untuk memperkenalkan materi baru/cara baru. Guru selalu
belajar dan mengupdate pengetahuannya.
3. Managemen
kelas dan ujian : beri waktu lebih lama
untuk membaca, menulis dan menyelesaikan
tugasnya. Memberikan kesempatan dengan cara dia mengerti. Mengekomodasi
kebutuhan kerjanya. Berikan hand out khusus yang lebih sederhana. Berikan kata
‘pertama’ saat tugas menulis panjang untuk membantu initial taskingnya.
Memberikan contoh hasil kerja yang baik sebagai panduan kerja. Mengatur uruutan
soal dari yang mudah ke yang sulit. Mengizinkan murid untuk melaporkan dengan
cara berbeda, misalnya dengan poster atau video. Memberikan waktu lebih lama
saat ujian atau rangan terpisah. Membacakan soal dan mengingatkan untuk
memerikasa kembali hasil kerjanya.
A. HASIL
TANYA JAWAB DAN DISKUSI OLEH PEMBICARA
1. Penyandang
disleksia memiliki IQ minimal 90. Jika kurang dari itu berarti perlu diagnosis pasti
dari ahli karena bisa jadi termasuk dalam kategori kesulitan belajar. Hal ini
perlu untuk menyesuaikan akomodasi dan pendekatan yang diperlukan. Sehingga
perlu adanya kerjasama antara guru dan orang tua siswa.
2. Perlunya
pendekatan khusus dari orang tua dan guru untuk menangani anak disleksia.
3. Disleksia
disandang seumur hidup sehingga perlu pendampingan terus meskipun sudah mencapai
usia dewasa.
4. Salah
satu software dalam bentuk game anak-anak yang dirancang khusus untuk anak
disleksia adalah lexipal. Produk ini
merupakan buatan asli Indonesia dan diakui secara internasional. Program ini
memiliki kualitas dan mampu membantu anak-anak disleksia untuk belajar melalui
game.
5. Disleksia
dapat diketahui dari usia 7 tahun. Tetapi bila ada seseorang yang memiliki
ciri-ciri disleksia pada usia remaja maka perlu adanya pemeriksaan medis. Agar
hasilnya valid dan dapat segera diberikan penanganan khusus.
Subscribe to:
Posts (Atom)